Saturday, January 17, 2026

Suami Gue Kerja di Jepang

 "Di usia yang hampir menginjak kepala orang ini ... "

Kira-kira begitu potongan kata-kata dari sound viral TikTok saat ini. Definisi makin tua makin bodo amat dengan segala hal receh itu bener banget. Menurut gue, apa pun, yang gak merugikan secara materi harus di-bodoamat-in, gak usah dibawa perasaan alias baper.

Waktu belanja di minimarket, "Pulsanya sekalian, Bu? Atau mau ambil tebus murahnya?" "Nggak, Kak, itu aja," jawab gue sambil senyum.

Sering banget tiap jalan sama keponakan, orang ngira itu adalah anak gue. Ya, wajar, sih, karena I look like 'a mom and her daughter' di mata stranger. Sampai ada tukang parkir nanya, "Berdua aja, Bu, suaminya gak ikut?" Gue jawab, "Nggak, Pak, suami saya lagi kerja di Jepang." "Oh, hebat, ya. Udah lama?" tanyanya lagi. "Udah tiga tahun, Pak," jawab gue santai. 

Sumber foto: Google - Adobe Stock

Lanjut pengalaman beberapa kali berobat ke Puskesmas, di bagian pendaftaran udah pasti ditanya keluhannya apa dan sedang dalam kondisi hamil atau gak. Mungkin untuk preventif penanganan selanjutnya. "Lagi hamil nggak, Bu?" tanya si petugas. "Nggak, Pak," jawab gue.

Lanjut di ruang pemeriksaan, dokter nanya, "... mungkin karena faktor asap rokok, Bu. Suami ibu di rumah suka merokok, ya?" Gue jawab, "Suami saya gak ngerokok, Dok."

Banyak banget kejadian semacam contoh di atas yang makin ke sini gue makin ngerasa, "Eh, gapapa, kok, dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Atau dipanggil dengan sebutan 'Bu' meskipun belum punya anak. Untuk ada di fase se-woles ini emang kudu ngalamin dulu yang namanya fase baperan dan menurut gue wajar. Ditanya 'kapan nikah', baper, dibilang 'gak laku', baper, dikatain 'gak suka laki', baper, dikatain 'perawan tua', baper. Bahkan ditanya 'suaminya ke mana'-pun, baper, dipanggil dengan sebutan 'Bu' pun,  baper. Padahal, ya, kalo dipikir-pikir, terlebih stranger yang gak tau apa-apa tentang kita, tentang gue, maksudnya, hal yang wajar terlontar pertanyaan dan pernyataan semacam itu. Dan kita gak perlu menjelaskan apa pun. Ngapain?

Kalo lima tahun yang lalu ditanya, "Suaminya gak ikut, Bu?" mungkin gue akan jawab, "Saya belum nikah, Pak, belum punya suami." Ngapain? Ngapain jawab gitu? Orang gak peduli dengan jawaban apa pun yang keluar dari mulut gue. Lima tahun yang lalu gue akan tiba-tiba insecure gara-gara dipanggil dengan sebutan 'Bu' oleh stranger. Sambil ngaca gue bergumam, "Emang gue udah kayak ibu-ibu, ya?", "emang gue udah keliatan setua itu, ya?" NGAPAIN? Ya, emang udah tua, kan? Maksudnya, ya, udah di usia-usia yang layak dipanggil ibu. Wkwkwk.

Beda dulu dengan sekarang. Ketika masih muda semua hal terasa berarti dan layak untuk dipikirkan, termasuk komentar orang lain terhadap diri kita. Namun, ketika beranjak dewasa, didukung oleh banyak pengalaman, energi semakin berkurang, tapi identitas semakin menguat. Kita tahu siapa kita dan menerimanya dengan sepenuh hati.

Selalu ada cara untuk menjalani hidup ini dengan 'iziii' (easy_mudah) yaitu mengubah kebiasaan yang terlalu "reaktif" menjadi kebiasaan baru yaitu mencari perspektif lain. 

Tuesday, December 30, 2025

Vietnam, Semua Tempat adalah WC Umum

Gak tau ini hanya kebetulan atau nggak. Tapi yang pasti selama hampir dua minggu di sana ada pengalaman unik yang bikin gue kayak, "Hah?", "Gimana?", "Beneran kita disuruh pipis di sini?". Wkwkwk.

Pertama, waktu kami melakukan perjalanan darat naik sleeper bus dari Da Lat ke Da Nang yang memakan waktu hampir 13 jam. Di tengah perjalanan, mungkin sekitar jam dua malam si kawan kebelet pipis dan inisiatif bilang ke driver-nya untuk berhenti dulu karena udah gak tahan. Kebetulan gak ada fasilitas toilet di dalam bus. Untunglah si driver mau menepikan dulu busnya di depan pom bensin. 

Sumber foto: Google

Kurang lebih gambaran pom bensinnya seperti gambar di atas tapi dengan kondisi gelap gulita karena malam hari dan sepi.
Gak ambil waktu lama, si kawan langsung turun, gue mengikuti dari belakang. Waktu itu kami berusaha nyari di mana toiletnya, tapi karena pomnya tutup otomatis pintu toilet juga dikunci. Di tengah kegelapan itu gue lebih mendekat ke arah bus buat ngasih tau si driver kalo toiletnya tutup. Maksud gue, bisa gak lo cari pom bensin lain yang masih buka. Wkwkwk. Tapi driver-nya memberi gestur dari kejauhan itu seolah-olah bilang, "Ya, di situ, kamu pipis di situ," sambil tangannya menunjuk di area ruang seterbuka itu. Sementara si kawan yang udah gak tahan gak pikir panjang mau pipis di mana aja asal gak ngompol. Akhirnya pipislah di tempat terbuka dengan ambil posisi agak membelakangi tembok supaya gak kelihatan oleh warga dan penumpang di bus. Meskipun begitu kami tetep waswas. Gue yang tadinya mau ikut pipis mengurungkan niat setelah tau kalau air di keran yang tadi pas kami coba sempet masih ada airnya, tapi setelah si kawan pipis air di kerannya habis. 

Setelah selesai ritual pipis tadi, kami bergegas naik kembali ke dalam bus karena si driver juga keliatannya udah gelisah karena membuang waktu untuk berhenti.

Kejadian kedua lebih kocak lagi, kami pindah kota. Masih menempuh perjalanan jauh dari Da Nang menuju Hanoi, lagi-lagi kami naik sleeper bus yang gak ada fasilitas toiletnya. Lama perjalanan kurang lebih hampir sama belasan jam. Pengalaman kalau di negara sendiri naik bus AKAP itu pasti ada dua sampai tiga kali pemberhentian untuk ngasih waktu ke penumpang sekadar ke toilet atau makan di rest area/ resto yang disediakan oleh agen bus. Ini pun sama. Bus berhenti dua kali, pertama untuk ngasih kesempatan penumpang ke toilet, kedua berhenti di pool bus untuk makan. Yang jadi masalah adalah pemberhentian bus pertama bukan di rest area atau lokasi pool bus. TAPI DI TEMPAT TERBUKA. Tengah malam sodara-sodara. Gelap, tempat terbuka. KITA DISURUH PIPIS DI SITU, YA ALLAH. 

Asli itu semua penumpang pada turun, awalnya gue pikir, ya, busnya kalopun gak berhenti di rest area, minimal di tempat yang ada toiletnya, karena gelap dari dalam jendela bus gak kelihatan lokasi di luar bagaimana, gue excited untuk turun juga mengingat perjalanan masih jauh agak rempong kalo pengen pipis di tengah jalan. Trauma kejadian yang pertama terulang lagi.

Kurang lebih busnya berhenti di tempat seperti ini:

Sumber foto: Google

Kaget banget waktu  pertama kali turun dan liat sekeliling gak ada apa-apa, gak ada toilet, cuma tempat (seperti lapangan) terbuka. Lucunya, hampir semua penumpang langsung berpencar mencari tempat pipisnya masing-masing di tempat seterbuka itu, Ya Allah, syok banget, Kak!

Kami dikasih waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk ritual tersebut sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam bus melanjutkan perjalanan.

Fyi, gue gak jadi pipis, ya, kebetulan make diapers juga kalo urgent banget bisa pipis kapan aja.

Kejadian ketiga yang bikin gue mikir, kayaknya di sini bebas mau pipis di mana aja selagi gak nemu toilet. 
Sumber foto: Google

Waktu itu di pinggir jalan seperti ini gue liat ada motor menepi dan ngeliat ada satu cewek lagi nongkrong di semak-semak dan satunya nunggu di motor. Gue gak mikir gimana-gimana karena di sini pun sering lihat kendaraan menepi terus orangnya pipis di semak-semak. Tapi, kan, yang biasa gue liat itu cowok yang begitu. Nah, ini cewek kek santuy banget ritual di pinggir jalan gitu. Hahaha. Masalahnya dari pengalaman sebelumnya, sebetulnya nyari WC umum di Vietnam itu jauh lebih mudah (sama seperti di sini) di mana-mana ada, daripada waktu pengalaman di Bangkok yang jarang banget liat kecuali di mall. Tapi, kayaknya prinsip orang-orang di Vietnam, daripada ngompol mending pipis di mana pun. Gak di WC, gak ngaruh. KAYAKNYA.







Sunday, March 17, 2024

Seberapa Sering Pergi ke Malaysia

Hari itu gak sengaja lewat di timeline Twitter cuitan promo di Trip.com. Tanpa pikir panjang gue langsung nge-mention akun si kawan, kasih sinyal kalau 'gaskeun lah nge-trip lagi'. Benar saja si kawan langsung menyambut baik, lalu bilang, "GAASSSS!!"

Gue yang terbiasa hunting tiket pesawat promoan udah tau apa yang mesti gue siapin sebelum nge-war. Di jadwal yang sudah ditentukan, gue udah siap di depan PC mantengin tanggal-tanggal penerbangan yang ada promonya. Sementara tugas si kawan harus stand by di layar handphone-nya buat mastiin apa yang gue butuhin harus segera dikirim cepat, terutama soal urusan pembayaran yang lagi-lagi harus pake kartu kreditnya. Sat-set-sat-set, dapetlah tiket promo seharga kurang-lebih Rp650.000 pergi-pulang Jakarta - Kuala Lumpur. Murah gila, kan? Haha.

Pic: tertera harga untuk 2 pax

Kalau dihitung-hitung, ini adalah kali ketujuh kami pergi ke Malaysia dimulai dari tahun 2014 sampai sekarang 2024. Meski pun kami selalu pergi ke tempat yang sama kami gak pernah merasa bosan atau merasa rugi kenapa harus menghabiskan uang untuk pergi ke tempat yang sama 'berkali-kali'. Alasannya karena satu, nilai historis. Malaysia menjadi negara yang menyimpan banyak kenangan masa remaja kami. Di mana ketika itu kami pernah melaksanakan tugas sekolah berupa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah hotel di Malaysia selama enam bulan saat kelas 3 SMK di tahun 2005. Itulah alasan yang membuat kami selalu rindu dengan Malaysia. Rindu kudapannya, rindu suasananya, rindu dengar orang cakap Melayu, rindu dengan jalan-jalan yang pernah dilewati, rindu bau dupanya, dan lain-lain. Hahaha. Alasan yang terakhir sepertinya agak menyebalkan tapi itulah kenangan, tidak melulu untuk sesuatu yang kita senangi.

Pic: Di tempat dan orang yang sama, dengan waktu yang berbeda


Untunglah punya kenangannya di Malaysia. Coba kalau di Rusia? Agak repot karena tiket pesawatnya pasti mahal, gak akan terjangkau kantong kaum mendang-mending macam kami.

Sunday, April 30, 2023

Say No to K-Pop!

Foto nyomot dari GettyWallpaper

Ga tau, ya, ini gue lagi kenapa bisa begini. Dari dulu, tuh, sejak booming idol-idol Korea, entah drakor atau K-Pop-nya, gue menahan diri supaya gak ikut-ikutan trend jadi fans K-Pop. Bukan gimana-gimana, sih, ya. Masalahnya gue ngerasa udah bukan waktunya lagi di usia gue yang sekarang mengidolakan artis sampe segitunya. Kalau ada artis/penyanyi yang gue suka, ya, sekadar suka aja, gak usah sampe ngidol atau jadi fans berat. Gak perlu. Mau ngapain? Udah bukan waktunya. Toh, waktu masih remaja juga gue pernah ngalamin yang namanya ngidol sama artis. Zaman gue remaja, yang booming adalah telenovela (drama-dramanya Amerika Latin sono) gue gak pernah absen, tuh, nontonin Rosalinda, Esperanza, Bety La Fea sama Cinta Paulina, ampe gue ngebayangin gede nanti bakal punya suami kayak Raul Gonzalรจz atau yang tinggi-sipit-putih kayak Fernando Josรจ Altamirano del Castillo (suaminya Rosalinda). Anjir ngakak. Yang gak kelewat juga buat remaja masa itu, ya, ngidol sama Amigos, F4, AFI (Akademi Fantasi Indosiar, njir), Avril Lavigne, Linkin Park, pemain Timnas Italia, dll.

Foto dari Google

Foto dari Google

Kalau ngeliat fans K-Pop sekarang, tuh, kadang-kadang kita ngerasanya mereka itu suka di luar nalar. Idolanya dibela-belain ampe segitunya. Kadang nge-hate juga ampe segitunya. Terus segala merchandise sesepele photocard aja dibeli. Buat apaan, anjir? Lo liat foto-foto mereka seliweran di medsos emang gak cukup apa?

Astaghfirullah, gue gak muhasabah diri. Padahal dulu gue juga pernah ampe ngebela-belain beli tabloid Fantasi seminggu sekali dari hasil nyisihin uang jajan. Gue lebih milih gak jajan daripada ketinggalan ingfo si Pedro dkk. Belum lagi nyari itu tabloidnya susah bener. Kalo dapet bonus poster seneng banget gue tempel itu di kamar, sampe ada yang gue gunting-gunting terus ditempel gue bikin kliping (tua banget, ya, tau kliping). Udah kayak orang gila beneran, deh, kalo jadi fans garis keras. Makanya sekarang kalo liat fans K-Pop gue gak boleh 'misuh', karena gue pernah di posisi itu dulu. Wkwkwk.

Balik lagi ke obrolan awal, gue udah cukup gamau lagi ngidolain artis apa pun, termasuk  K-Pop. Kalo mau menikmati karyanya, ya, cukup denger lagu-lagunya. Gak perlu tau lah drama-drama di belakangnya, asal-usulnya, bapaknya keturunan apa, weton sama zodiaknya apa, mafa & mifa-nya (dikata lagi nulis buku diary punya temen), dll.

Ddu-Du Ddu-Du adalah lagu K-Pop pertama yang ngena banget di kuping gue. Setelahnya ada Solo-nya Jennie yang akhirnya gue tau kalo doi personilnya Blackpink (personil gak, tuh, member 'cuk').

Foto nyomot dari GettyWallpaper

Setelah kepoin akun official-nya di YouTube, ternyata lagu-lagunya yang dulu juga gak kalah bagus dan enak banget didenger. Jadilah gue lebih sering dengerin lagu-lagunya Blackpink. Dengerin 'tok' tanpa tau member yang lain selain Lisa dan Jennie. Ya bodo amat lah. Gue suka menikmati lagu-lagunya aja.

Nggak tau kenapa setelah bikin stories pas di GBK ngonser itu eksplor Instagram gue yang biasa ditonton adalah video-videonya Galasky cucunya Haji Faisal, Kwon Yuli (bocil stiker watsap), sama cuplikan-cuplikan gol, itu tenggelam ketutup sama Blackpink. Eksplor ige gue sekarang isinya Blackpink dan akun-akun fanbase-nya. Wkwkwk.

Ya, mau gak mau dong karena dicekokin terus sama tontonan video-video gemes member-nya, GUE JADI SUKAAAAAAAAAA. Jadi hapal sama semua member-nya, mukanya, karakternya, chemistry-nya, zodiaknya, nama bapaknya, dll.

Sekarang seambis itu sama Blackpink, astaga :(

Karena udah melanggar sama batasan yang dibuat sendiri untuk SAY NO TO K-POP, sekalian aja gue mendeklarasikan diri sebagai Blinkeu. WAKAKAKAKAK

Tuesday, January 31, 2023

Definisi Ucapan adalah Doa

Mungkin satu atau dua tahun yang lalu gue pernah berucap gini, "Kalau seandainya ada rezeki diangkat ASN, gue pengen pensiun (berhenti) nge-job." Itu di saat usia makin bertambah dan ngerasa udah capek banget fisik gue kalo harus ngehonor ngajar nyambi nge-job

Mundur lagi ke belakang, gue udah tiga kali ikut tes CPNS yang hasilnya nihil. Di tes yang ketiga dan tetap menemui kegagalan lagi gue kecewa banget terlebih usia saat itu udah 31, mepet banget lah seandainya mau ikut tes CPNS yang gak tau lagi adanya berapa tahun kemudian. 

Gue kecewa, gue marah, gue nangis, dan sempet mempertanyakan kepada Tuhan, "Ibadah saya selama ini fungsinya apa?" "Doa-doa saya? Gak bisa banget dikabulin apa?"

Tapi, di satu sisi job gue stabil dan relatif ada peningkatan. Pernah banget di musim orang nikahan, sebulan gue bisa ngegarap 20 sampai 25-an job. Tuhan Maha Adil, ya, di saat kecewa dengan satu hal, Dia bungahkan dengan hal lain. Bener-bener kayak udah gak kepikiran lagi kalo gue baru aja kecewa sama Tuhan, sama jalan hidup gue juga. Sesibuk itu dari weekday, weekend, pagi, siang, malem. Tiap hari hampir selalu begadang tidur jam 2 pagi nyelesein editan. 

Gue sangat mengandalkan pendapatan dari photo-video wedding. Sampe gue mikir, "Oh, mungkin jalan gue emang di sini kali, ya? Di dunia per-wedding-an. Kalo emang iya, semoga rezekinya ada terus, dikasih jalan supaya bisa beli peralatan yang lebih proper dan bisa ngembangin usaha ini."

Baru aja gue punya semangat dan keyakinan bahwa 'jalan gue emang di sini'. Daasss!!! Beberapa bulan kemudian ada bencana Covid-19. Pemberlakuan PSBB, PPKM, dan sebagainya. Blas! Gak ada orang nikah. Gak ada job. Sekali pun ada yang nekat menggelar pernikahan di tengah badai corona, hanya ada satu atau dua per tiga bulan dan itu pun cuma sebatas akad yang otomatis bayaran gak full. Yang pasti gue ikut kena imbas dari musibah Covid-19 itu. 

Ada istilah badai pasti berlalu itu benar adanya. Pertengahan 2021 udah nampak terang, pembatasan-pembatasan udah mulai agak longgar. Job satu per satu mulai berdatangan. Mulai menata kehidupan lagi. Fix gue mau jalanin (usaha) ini dengan serius. Terlebih beberapa gear-nya udah upgrade. Entah yang mana yang jadi kerjaan sambilan, apakah mengajar atau nge-job? Yang pasti gue jalanin aja semuanya tapi sambil nangis. Canda.

Meme dapet nyomot dari twitnya anak presiden

Rezeki enggak ke mana, akhir 2021 dibuka tes CASN PPPK. Walaupun peluang lolosnya lebih tinggi, tapi gue udah terlanjur kecewa karena pernah gagal tiga kali. Gue udah se-hopeless itu. Ikut, ya, ikut. Tapi, gak menaruh lagi ekspektasi yang gimana-gimana. Sampe-sampe, doanya diubah. Sebelumnya, doa gue hanya fokus supaya gue lolos, gue lolos, gue lolos. Tapi sekarang (semenjak kegagalan itu), doa gue cuma satu, 'berikan yang menurut Tuhan baik'. Udah. Apapun. Bakal gue jalanin dengan baik juga.

Usaha lagi jalan, hampir tiap weekend ada job, ya, gue santai walaupun badan terbantai. Ceile. Weekday ngajar, weekend nge-job. Pagi ngajar, siang-sore sampe subuhnya ngedit. Yang awalnya enjoy lama-kelamaan ngerasa capek banget. Fisik udah gak sama kayak waktu umur 20-an. Gue kayak yang butuh istirahat. Makin ke sini tiap abis nge-job pasti langsung ngedrop. Usia tidak bisa menipu. Sampe gue mikir, apa gue bakalan kayak gini terus sampe tua? Sedangkan baru kepala tiga aja udah berasa terkuras energinya kerja angkat-angkat kamera.

Lalu kepikiran sama tes CASN PPPK yang baru gue lalui dan tinggal nunggu pengumuman. Akhirnya terucap, "Kalau seandainya ada rezeki gue lolos dan diangkat ASN, gue pengen pensiun (berhenti) nge-job. Tapi, kalau gagal lagi itu tandanya gue kudu nyetok koyo banyak-banyak biar tetep kuat angkat kamera buat badan yang mulai menjompo ini."

Tak dinyana akhirnya gue lolos kali ini. Tahun 2022 menyandang status CASN, di akhir tahun sah menjadi ASN PPPK, dan awal tahun ini (2023) merasakan juga gaji pertama. Alhamdulillah.
Dan ajaibnya ada istilah 'ucapan adalah doa' itu mungkin ada benarnya. Semenjak gue berucap kata-kata itu, mulai dari awal Januari ini gue gak ada job masuk satu pun. Itu artinya gue udah gak nge-job lagi per bulan Januari sampai entah. Untuk bulan depan pun tidak ada tanda-tanda ada yang booking. Entah harus senang atau sedih, tapi yang pasti seneng banget. Terlebih mengajar adalah pekerjaan di mana gue gak pernah ngerasain yang namanya jenuh atau capek yang berlebihan secara fisik. MENTAL IYA. Hahaha.

Gimana pun, pekerjaan gue sebagai kameramen (2007) udah lebih dulu dijalanin ketimbang ngajar (2009). Baru nyusul sebagai editor di tahun 2017. Yang bisa gue lepas pelan-pelan saat ini mungkin sebagai kameramen lepas (freelance) yang turun ke lapangan langsung di mana butuh tenaga yang lebih banyak daripada editor yang bisa gue kerjain sambil sesekali rebahan. Sebagai editor masih ngerjain untuk vendor yang punya kakak sendiri. Selebihnya mau fokus mengajar dan menikmati hidup.

Meski terlalu telat untuk memulai sesuatu yang seharusnya bisa lebih cepat didapat, tapi Tuhan Maha Tahu tau kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan doa hambaNya yang suka sambat. 

Hehe.


Sunday, June 26, 2022

Jalan Kaki dari Sudirman ke Suropati

Gara-gara liat kutipan di buku yang lagi gue baca jadi dapet inspirasi bikin konten di blog. :)

"Berjalan-jalanlah. Kita perlu berjalan-jalan di luar, supaya pikiran kita dapat disehatkan dan disegarkan oleh suara terbuka dan tarikan napas yang dalam." -Seneca

Kemudian menjadi sumber inspirasi bagi Friedrich Nietzsche menghasilkan karya-karyanya saat dan setelah melakukan aktivitas berjalan-jalan, dalam hal ini berjalan kaki. Cuma jangan dibayangin Nietzsche jalan kakinya di daerah kawasan industri macem di Kabupaten Serang ini. Wkwkwk. Bukan ketenangan yang didapet tapi malah emosi. Beliau berjalan kaki di sekitaran danau, bukit, hutan pinus, di kaki Gunung Engadine Atas, atau kalau lagi musim dingin beliau jalan kakinya di sekitaran kota kecil di Genoa. 

Nih, lembah Engadine boleh nyomot dari Google masih ada watermark-nya.

Kalo ini ilustrasi jalan raya depan rumah gue kurang lebih sama seprti ini, jam lengang banyak kendaraan berat, jam masuk dan pulang kerja malah makin barbar. Wakakak, gusti Allah.

Dokumen pribadi yang gue fotoin sendiri. BAYANGIIIIINNN.

Gue sih maunya kalo lagi di rumah dan pengen ke Indomaret atau sekadar jajan beli gorengan ke depan itu ya jalan kaki aja gitu, toh deket. Tapi, jalan kaki di tempat gue, tuh, ibarat nganterin nyawa cuma-cuma. Jalan udah mepet ke pinggir aja, nih, udah diklaksonin angkot sama motor, astaga. Belum lagi banyak banget kendaraan berat macem truk, mobil molen, kontainer, yang gitu-gitu dah. Masih sayang nyawa mending gue tahan rasa ingin jajannya, atau kalo terpaksa banget, ya, milih ngeluarin motor yang pasti ngeluarin energi lebih banyak, ditarik-tarik motornya takut nyenggol kusen pintu.

Setop ngebahas kabupaten gue dibanding-bandingin dengan Swis dan Italy, jauh panggang dari api. Gue mau sharing pengalaman berjalan kaki yang menurut gue paling berkesan. Berkesan dalam arti gue merasa tenang, damai, hening meski bukan di tempat seperti hutan atau di kaki gunung. Tepatnya di tengah kota Jakarta. Waktu itu gak sengaja sama si kawan seperti biasa habis pulang nge-trip cari stasiun terdekat. Dari hotel ke Stasiun Cikini kami putuskan berjalan kaki sejauh 1,5 km, waktu tempuh 20 menitan. Dengan beban ransel yang menempel di punggung meski berat tapi gue menikmati setiap langkah menuju stasiun. Gue kok merasa adem, tenang, selama perjalanan gak riuh dengan kendaraan dan masih ada pepohonan rindang untuk menutupi terik. Cukup teduh untuk ukuran kota Jakarta.

Dari situ lah akhirnya gue pengen suatu waktu melakukan perjalanan yang sama -berjalan kaki- di tempat yang sama, sendiri, tanpa partner dan beban ransel.

Kebetulan gue suka banget dengan taman, gue betah duduk berlama-lama di taman baik ramean atau sendiri. Dan taman terbaik sejauh ini jatuh kepada Taman Suropati. Wakakak. Gue jauh-jauh dari Serang ke Jakarta cuma ingin duduk di taman berjam-jam. Belum seberapa, sih, kalau ke Jakarta. Karena pernah waktu itu sangking pengen banget duduk di taman, gue keretaan sampe ke Kebun Raya Bogor. Di situ gue cuma duduk selama dua jam, terus pulang. Emang random banget, sih. Tapi emang yang dicari adalah ketenangannya. Gue suka kereta, buku, jalan kaki, dan taman. Ketika empat amunisi itu jadi satu rasanya kayak dapet nikmat besar dari Sang Pemilik Semesta.

Tentang kereta dan taman kayaknya pernah gue bahas entah di blog ini atau di jawaban Quora, yang pasti sekarang ngasih ruang untuk 'jalan kaki'.

Dari sekian pengalaman berjalan kaki, rute dari Stasiun Sudirman ke Taman Suropati adalah yang paling gue suka. Mungkin karena di situ kawasan komplek rumah orang kaya jadi beda kali suasananya, ya. Wkwkwk. Gak gitu. Lebih ke sepanjang jalannya adem, rindang, ada suara hiruk-pikuk ala kota besar tapi terdengar jauh sekali. Tenang, saat jalan gue ngobrol dengan diri sendiri, relaksasi, gak perlu menyamakan langkah dengan teman seperjalanan karena gue jalan sendirian, lepasin semua identitas diri dan topeng sosial, lupa sejenak cucian piring, atau motor yang belum ganti oli. Suatu gambaran  kesederhanaan perihal kebahagiaan dapat dirasakan sewaktu berjalan kaki.

Sebagai penutup ada satu kutipan yan gue suka:

"Duduklah sesedikit mungkin, jangan percaya ide apa pun yang tidak lahir dari udara terbuka dan gerakan kaki yang bebas!" -Nietzsche

 

Monday, May 23, 2022

Bikin Tampilan Workspace Adobe Premiere Pro yang Nyaman

Kebetulan baru update Windows terbaru, gais, jadi terpaksa reinstall aplikasi Adobe Premiere Pro. Kalo udah gini harus setting semua-muanya dari awal. Mulai dari workspace, keyboard shortcuts, dan terakhir sequence presets.

Sebenernya buat tampilan workspace bisa beda-beda tiap orang. Punya nyamannya masing-masing. Wkwkwk. Cuma di sini mau nunjukin workspace ala gue sekalian kasih sedikit caranya buat yang belum tau cara setting-nya karena jujurly kalau pake tampilan bawaan buat gue sendiri gak nyaman di mata dan ada beberapa panel yang gak pernah dipake.

Tampilan awal kalo baru banget pasang aplikasinya:

Setelah bikin project baru tampilannya seperti ini. Ada beberapa panel yang sebenernya gak perlu-perlu banget jarang dipake jadi singkirkan saja.

Buat bikin tampilan sesuai keinginan kita, klik Window - Workspaces - Edit Workspaces

Lalu mulai atur layout, buang panel yang jarang dipake bahkan gak pernah. Contohnya kayak Learn ini buang aja.
Media Browser juga.

Setelah menyisakan panel-panel prioritas, tinggal klik-drag ke posisi yang bikin nyaman.
Hasil akhir punya gue langsung save aja klik Window - Workspaces - Save as New Workspaces
Kasih nama workspace-nya biar gampang nyarinya.
Jadi, kalo mau bikin project baru tinggal pilih workspace yang udah kita save sebelumnya.

Ini contoh workspace ternyaman versi gue. Ckckck.